Langowan – Wilayah Desa Rumbia pada zaman dahulu kala sekitar tahun 1825 merupakan tempat nelayan – nelayan dari suku Mongondow, Ternate, Buton, Bugis, Gorontalo, dan Sangihe berkumpul. Hal itu disebabkan karena letak geografisnya terletak di wilayah pantai. Karena membutuhkan waktu dan tempat untuk beristirahat, para nelayan itu pun mencari tempat di tepi pantai. Mereka pun membuat daseng atau gubuk sebagai tempat berteduh.

Daseng – daseng tersebut dibuat dari potongan – potongan kayu yang beratapkan daun rumbia. Tempat dimana mereka beristirahat terdapat rawa yang ditumbuhi banyak sekali pohon rumbia. Daunnya diambil dan dianyam. Setelah itu dirangkai menjadi atap di bagian atas daseng. Para nelayan itu pun menyadari bahwa pohon rumbia memiliki banyak manfaat. Bahkan bagian tengah batang pohon bisa dibuat sagu. Maka dinamakanlah tempat itu Rumbia.

Lama kelamaan para nelayan tersebut tidak hanya menjadikan tempat tersebut sebagai tempat beristirahat namun juga mulai menetap. Jumlah penduduk semakin bertambah. Pertambahan penduduk di Desa Rumbia juga turut disebabkan karena datangnya penduduk dari Palamba dan Atep. Tahun 1854, kampung Rumbia mulai dipimpin oleh seorang kepala kampung bernama Albert Mawuntu yang berasal dari Desa Atep. (***/Frangki Wullur)

sumber: https://beritamanado.com/kilas-balik-kota-langowan-4-desa-rumbia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *